Jelajahi 7 Keunikan Suku Kerinci (Uhang Kincai)

Keunikan Suku Kerinci

Keunikan Suku Kerinci

Keunikan Suku Kerinci menawarkan pengalaman menjelajahi khazanah Nusantara yang masih terjaga hingga kini. Masyarakat adat yang mendiami wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh ini menyimpan segudang warisan leluhur yang membedakannya dari kelompok etnik lain di Sumatra.

Sekilas tentang Suku Kerinci

Suku Kerinci atau dalam bahasa lokal disebut Uhang Kinci atau Uhang Kincai merupakan kelompok etnik asli Sumatra yang mendiami Dataran Tinggi Kerinci, tepatnya di deretan Pegunungan Bukit Barisan dengan puncak tertinggi Gunung Kerinci. Nama Kerinci sendiri berasal dari bahasa Tamil, Kurinji, yang merujuk pada nama bunga khas pegunungan India Selatan yang mekar sekali dalam dua belas tahun. Para pedagang India Tamil-lah yang pertama kali memberikan nama ini, menunjukkan jejak hubungan dagang kuno antara Nusantara dan anak benua India .

Para arkeolog meyakini nenek moyang Suku Kerinci telah mendiami wilayah ini sejak ribuan tahun lalu. Penelitian menunjukkan keberadaan manusia purba “Kecik Wok Gedang Wok” yang kemudian bercampur dengan gelombang migrasi Proto Melayu, membentuk cikal bakal orang Kerinci modern. Bahkan, beberapa ahli seperti Dr. Bennet Bronson dari Amerika Serikat, menyebut suku bangsa ini lebih tua dibandingkan Suku Inka di Amerika, dengan bukti arkeologis berupa kapak genggam, flakes obsidian, dan berbagai tinggalan Megalitikum yang tersebar di sekitar Danau Kerinci.

Keunikan Suku Kerinci

Berikut ini keunikan suku kerinci yang membedakannya dengan suku-suku yang ada di Indonesia khususnya Sumatera.

1. Sistem Kekerabatan Matrilineal

Salah satu keunikan Suku Kerinci yang paling menonjol adalah sistem kekerabatannya yang matrilineal. Berbeda dengan mayoritas masyarakat Sumatra yang paternalistik, orang Kerinci menempatkan garis keturunan ibu sebagai penentu utama dalam struktur sosial mereka. Sistem ini konon merupakan salah satu sistem kekeluargaan tertua di dunia yang masih bertahan.

Dalam praktiknya, seorang anak akan mengikuti suku atau kelbu ibunya. Harta pusaka seperti tanah, sawah, dan gelar adat diwariskan melalui garis perempuan. Setelah menikah, pasangan suami-istri akan tinggal di lingkungan keluarga istri, sebuah sistem yang disebut matrilokal atau dalam istilah setempat duduk semendo .

Struktur sosial masyarakat Kerinci bertingkat dari unit terkecil hingga terbesar. Kamu akan mengenal istilah tumbi, yaitu keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang belum menikah. Beberapa tumbi yang masih serumpun membentuk perut, dan kumpulan perut dari satu nenek moyang perempuan disebut kelbu. Tingkatan tertinggi adalah luhah, yaitu persekutuan beberapa kelbu yang membentuk satu kesatuan adat .

Uniknya, meskipun sistem kekerabatan berdasarkan garis ibu, kepala keluarga tetaplah suami, bukan saudara laki-laki ibu (mamak) seperti dalam adat Minangkabau. Ini menunjukkan variasi unik dalam penerapan sistem matrilineal di Nusantara.

2. Rumah Larik

Jika kamu berkunjung ke perkampungan tradisional Kerinci, kamu akan disambut pemandangan rumah panggung yang berderet memanjang seperti gerbong kereta api. Inilah Rumah Larik, arsitektur tradisional yang merefleksikan filosofi hidup masyarakat setempat.

Rumah Larik atau dalam bahasa lokal umoh laheik jajou dibangun sambung-menyambung antara satu bangunan dengan bangunan lainnya, membentuk satu deretan panjang dari arah timur ke barat mengikuti garis edar matahari. Setiap deretan dihuni oleh beberapa keluarga yang masih memiliki ikatan kekerabatan. Konstruksinya cukup unik karena tidak menggunakan paku atau besi, melainkan sistem pasak dan sambungan silang berkait yang rumit.

Filosofi rumah ini mencerminkan dua sumbu penting dalam kehidupan orang Kerinci. Sumbu vertikal terlihat dari pembagian ruang menjadi tiga bagian: kolong rumah (bawouh umou) yang digunakan untuk kandang ternak atau menyimpan perkakas, bagian tengah untuk tempat tinggal manusia, dan loteng (parra) tempat menyimpan benda-benda pusaka atau sko. Sementara sumbu horisontal tercermin dari hubungan antarruang yang tidak bersekat dan saling terhubung, melambangkan tingginya nilai kebersamaan dan kegotongroyongan.

Setiap keluarga menempati ruangan yang disebut sikat, terdiri dari kamar, ruang depan, ruang belakang, selasar, dan dapur. Antar sikat terdapat pintu kecil penghubung, sehingga penghuni bisa berkomunikasi tanpa harus keluar rumah. Halaman belakang yang luas dan panjang menjadi area bersama untuk menjemur hasil pertanian atau menggelar acara adat seperti Kenduri Sko.

3. Aksara Incung

Keunikan Suku Kerinci berikutnya yang membuat para peneliti kagum adalah kepemilikan aksara sendiri. Aksara Incung atau Surat Incung merupakan sistem tulisan tradisional yang digunakan leluhur Kerinci untuk mendokumentasikan berbagai aspek kehidupan.

Secara bahasa, incung berarti ‘miring’ atau ‘terpancung’, merujuk pada bentuk aksara yang ditulis miring beberapa derajat dengan garis-garis lurus, patah, dan melengkung . Aksara ini termasuk dalam kelompok Aksara Rencong, turunan dari aksara Sumatera Kuno yang berakar dari aksara Brahmik India. Para ahli memperkirakan penggunaannya dimulai sekitar abad ke-14 hingga ke-15 Masehi, dengan bukti tertua ditemukan dalam naskah Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah—naskah Melayu tertua di dunia.

Yang membuat aksara ini istimewa adalah medianya. Naskah Incung ditulis di atas berbagai bahan unik: tanduk kerbau, tanduk kambing, ruas bambu, kulit kayu, hingga tulang . Naskah pada tanduk umumnya berisi tembo, yaitu historiografi tradisional tentang silsilah dan perjalanan nenek moyang suatu klan. Sementara naskah pada bambu dan kertas lebih banyak memuat karang mindu, prosa ratapan kesedihan, percintaan, dan mantra-mantra .

Mantra dalam naskah Incung mencerminkan kepercayaan kuno masyarakat Kerinci. Ada idu tawar untuk pengobatan, cuco untuk mengusir roh jahat, lam jampi atau luwak untuk memperoleh kekuatan gaib, serta nyaho/nyaro untuk memanggil arwah leluhur dalam ritual tertentu . Keberadaan aksara ini membuktikan bahwa masyarakat Kerinci telah memiliki peradaban literasi yang maju jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Sayangnya, aksara Incung kini terancam punah. Pemerintah Hindia Belanda pernah melarang penggunaannya karena menyulitkan upaya kolonialisasi . Saat ini, hanya sedikit orang yang mampu membaca dan menulis aksara ini. Namun kabar baiknya, pemerintah daerah dan komunitas muda seperti @sekolah.incung mulai aktif melestarikannya melalui kelas-kelas belajar dan pencantuman aksara Incung di papan nama jalan dan kantor pemerintahan .

3. Ritual Asyeik dan Tari Nitih Mahligai

Bicara tentang keunikan Suku Kerinci, kita tidak bisa melewatkan tradisi ritual dan tariannya yang sarat makna spiritual. Ritual Asyeik (Asyik) merupakan upacara peninggalan kepercayaan animisme yang masih bertahan hingga kini. Pada masa lampau, masyarakat melakukannya sebagai sarana pemujaan roh nenek moyang dan alam, meminta keselamatan, perlindungan dari roh jahat, berkah kesuburan tanah, hingga tolak bala .

Dalam pelaksanaannya, mantra-mantra pemujaan disampaikan melalui lantunan syair lagu yang diiringi musik dan tarian. Ritual ini melibatkan segenap lapisan masyarakat dan merangkul berbagai cabang seni—musik, tari, sastra, dan seni rupa—dalam satu kesatuan yang utuh . Seiring perkembangan zaman, Asyeik mulai ditinggalkan sebagai ritual sakral dan bergeser menjadi atraksi budaya pada event-event tertentu.

Satu lagi warisan budaya yang tak kalah mencengangkan: Tari Nitih Mahligai. Tarian ini masih berkembang di Desa Siulak Mukai Tengah, Kecamatan Gunung Kerinci. Keistimewaannya terletak pada aksi para penari perempuan yang melakukan hal-hal ekstrem di luar nalar. Mereka menari di atas api, menginjak pecahan kaca, menari di atas sebutir telur tanpa memecahkannya, bahkan dihunus dengan pedang tanpa menimbulkan luka sedikit pun.

Pada zaman dahulu, tarian ini menjadi sarana komunikasi kepada roh nenek moyang, media penyembuhan penyakit, serta pengikat solidaritas antarpenyandang gelar adat. Sekarang kamu bisa menyaksikannya pada acara resmi, perayaan hari besar, penyambutan tamu penting, atau festival pariwisata di Kerinci.

4. Bahasa dengan 170 Dialek

Aspek linguistik juga menyumbang keunikan Suku Kerinci. Bahasa Kerinci termasuk rumpun Austronesia, Melayu Polinesia Barat, dalam keluarga bahasa Melayu-Minangkabau . Namun yang membuatnya istimewa adalah keragaman dialeknya.

Tercatat sekitar 170 buah logat atau dialek dalam bahasa Kerinci, dan setiap dialek bisa berbeda cukup jauh antara satu dusun dengan dusun lainnya, bahkan jika jaraknya hanya beberapa kilometer . Fenomena ini menjadikan Kerinci sebagai laboratorium linguistik yang menarik bagi para peneliti bahasa.

Untuk berkomunikasi dengan pendatang, masyarakat biasanya menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Minangkabau. Sementara dalam percakapan sehari-hari antarwarga, mereka menggunakan dialek lokal masing-masing.

5. Kuliner Khas

Perjalanan menjelajahi keunikan Suku Kerinci tidak lengkap tanpa mencicipi kulinernya. Gulai Ikan Semah menjadi primadona yang wajib kamu coba. Ikan semah hidup di sungai berarus deras, sehingga dagingnya bertekstur padat dan lezat. Uniknya, duri ikan ini mirip tulang muda pada ayam. Diolah dengan santan kental dan bumbu rempah, menghasilkan gulai dengan cita rasa gurih yang khas .

Ada juga Sambal Cabai Suhin atau Sambal Pucuk Surian, warisan leluhur yang melegenda . Bahan dasarnya adalah pucuk daun surian yang difermentasi, kemudian diolah dengan cabai dan tomat. Keistimewaan sambal ini terletak pada daya tahannya—bisa disimpan 3-4 hari bahkan semakin lama semakin enak. Dulu, para petani membawanya sebagai bekal saat menginap di ladang karena tidak mudah basi .

Kuliner khas lainnya termasuk Dodol Kentang dengan bahan utama kentang dataran tinggi, Soto Semurup yang isinya dilengkapi dendeng sapi, Lemang Kantong Semar, serta minuman segar Air Sebuk Kawo dan Sirup Kayu Manis—komoditas rempah yang melimpah di daerah ini.

6. Pakaian Adat

Dalam acara-acara adat seperti pernikahan atau Kenduri Sko, wanita Kerinci mengenakan busana adat dengan ciri khas utama berupa kulok—penutup kepala yang berfungsi sebagai mahkota . Kulok bukan sekadar aksesori, melainkan simbol keagungan wanita dan identitas diri sebagai bagian dari masyarakat Suku Kerinci. Sebagai penutup aurat, kulok juga mencerminkan nilai-nilai Islam yang telah menyatu dengan adat .

Kulok terdiri dari beberapa unsur: sangkul, tujuh kunci, lidah kulok, turai, dan bunga aut. Setiap bagian memiliki makna filosofis yang memperkaya keindahan dan kedalaman makna busana adat ini.

7. Kearifan Lokal dalam Pemerintahan Adat

Masyarakat Kerinci sejak lama telah memiliki sistem pemerintahan adat yang terstruktur. Dalam setiap dusun, terdapat empat golongan yang disebut uhang IV Jenis: golongan adat (dipimpin Depati), alim ulama (pemimpin agama), cerdik pandai (kaum terpelajar), dan hulubalang (pemuda penjaga keamanan) .

Struktur adat tertinggi disebut Sko Tigo Takah, terdiri dari Sko Depati, Sko Pemangku, dan Sko Permenti Ninik Mamak. Depati memegang jabatan tertinggi dengan kewenangan memutuskan perkara adat . Meski demikian, kepemimpinan tidak bersifat otokrasi. Segala masalah dusun diselesaikan melalui musyawarah mufakat, mencerminkan nilai-nilai demokrasi khas Nusantara.

Wilayah adat Kerinci terbagi menjadi Kerinci Rendah (sekarang bagian Merangin) dan Kerinci Tinggi (wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh). Masing-masing dipimpin oleh persekutuan depati dengan wilayah kekuasaan yang jelas, seperti Depati IV diatas, Pemangku V, dan Depati Delapan Helai Kain.

Suku Kerinci membuktikan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang melimpah, tersimpan rapi di lembah-lembah dataran tinggi Sumatra. Dari sistem matrilineal yang menjaga garis keturunan ibu, rumah larik yang mengajarkan kebersamaan, hingga aksara Incung yang merekam ingatan kolektif, semuanya adalah mahakarya peradaban yang patut kita jaga.

Sekepal tanah dari surga, demikian julukan bagi tanah Kerinci. Dan surga itu nyata, tidak hanya pada keindahan alamnya, tetapi juga pada kekayaan budayanya yang tak ternilai.

Silakan bagikan artikel ini kepada teman-teman agar semakin banyak yang mengenal kekayaan budaya Nusantara. Dengan berbagi, kamu turut berpartisipasi melestarikan warisan leluhur yang tak ternilai harganya. Karena melestarikan budaya berarti merawat identitas bangsa.

Baca juga:

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Di mana bisa melihat langsung Rumah Larik tradisional?

Rumah Larik tradisional masih dapat ditemukan di beberapa dusun di Kota Sungai Penuh, terutama di kawasan Pondok Tinggi yang relatif masih mempertahankan keaslian arsitekturnya. Namun secara umum, rumah-rumah ini sudah semakin berkurang dan terhimpit bangunan modern .

2. Apa isi dari naskah kuno Aksara Incung?

Naskah Incung umumnya berisi dua hal utama: tembo (historiografi tentang silsilah dan perjalanan nenek moyang suatu klan, biasanya ditulis di tanduk kerbau) dan karang mindu (prosa ratapan kesedihan dan percintaan, biasanya ditulis di bambu atau kertas). Beberapa naskah juga memuat mantra-mantra untuk pengobatan, perlindungan diri, atau ritual adat.

3. Apakah Suku Kerinci masih melestarikan ritual tradisional?

Ya, meskipun beberapa ritual sakral mulai bergeser fungsi. Ritual Asyeik yang dulu sebagai pemujaan roh leluhur kini lebih sering ditampilkan sebagai atraksi budaya pada event tertentu. Tari Nitih Mahligai dengan atraksi ekstremnya masih bisa disaksikan pada acara-acara adat dan festival pariwisata. Upacara seperti Kenduri Sko untuk pengukuhan gelar adat juga masih berlangsung secara periodik .

4. Apa kulikhas Suku Kerinci yang paling direkomendasikan?

Gulai Ikan Semah adalah ikon kuliner Kerinci yang wajib dicoba. Ikan semah dengan daging padat dan duri empuk khas ini diolah dengan santan kaya rempah. Sambal Cabai Suhin (Sambal Pucuk Surian) juga unik karena tahan lama dan semakin enak jika disimpan. Jangan lewatkan Dodol Kentang sebagai oleh-oleh manis khas daerah ini.

Referensi

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Kerinci
  2. https://portalbpsdm.jambiprov.go.id/artikel/buku-sastra/suku-kerinci-sejarah-bahasa-budaya-dan-rumah-adat/
Scroll to Top