Kerajaan Melayu Jambi
Kamu pasti sering mendengar nama Jambi sebagai salah satu provinsi di Sumatra. Namun, tahukah kamu bahwa di balik nama itu tersimpan sejarah panjang sebuah entitas politik yang perkasa? Kerajaan Melayu Jambi bukan sekadar kerajaan biasa. Ia adalah simpul penting dalam jaringan perdagangan dunia, pewaris tradisi kemaritiman Sriwijaya, dan saksi bisu pergulatan kekuasaan antara tradisi Hindu-Buddha, Islam, dan pengaruh kolonial Eropa.
Sejarah Kerajaan Melayu Jambi
Sebelum menjadi sebuah kesultanan Islam yang masyhur, Kerajaan Melayu Jambi memiliki akar yang sangat dalam, merunut pada entitas Kerajaan Melayu (Malayu) Kuno. Berdasarkan catatan I-Tsing, seorang peziarah Buddha dari Tiongkok pada abad ke-7, wilayah Melayu sudah menjadi persinggahan strategis dalam pelayaran antara Sriwijaya dan Kedah. Pusat kekuasaan kerajaan kuno ini diperkirakan berlokasi di sekitar hulu Batang Hari, di daerah yang kini dikenal sebagai Dharmasraya. Keberadaannya sempat terintegrasi dalam hegemoni Sriwijaya, namun bangkit kembali pasca serangan Kerajaan Chola dari India pada 1025 M.
Kebangkitan itu ditandai dengan munculnya Wangsa Mauli, dinasti baru yang mengambil alih kendali perdagangan di Selat Malaka. Prasasti Grahi (1183 M) di Thailand selatan dan Prasasti Padang Roco (1286 M) di Dharmasraya adalah bukti otentik pengaruh mereka. Saat itulah, istilah San-fo-tsi dalam kronik Tiongkok tak lagi merujuk pada Sriwijaya-Palembang, tetapi pada Kerajaan Dharmasraya yang merupakan cikal bakal langsung dari Kerajaan Melayu Jambi. Wilayah kekuasaannya membentang, dengan angkatan laut yang disegani dan mengontrol lalu lintas kapal asing di selat tersibuk di dunia.
Kelahiran Kerajaan Melayu Jambi
Pada abad ke-15, peta politik Nusantara berubah. Majapahit mulai memudar, sementara pengaruh Islam menyebar pesat dari pesisir. Dalam konteks inilah, Kerajaan Melayu Jambi dalam bentuk yang lebih mandiri mulai berdiri. Tradisi menyebutkan bahwa pendirinya adalah Datuk Paduko Berhalo bersama sang permaisuri, Putri Selaras Pinang Masak, sekitar tahun 1460 M. Awalnya, kerajaan ini masih berada dalam orbit pengaruh Jawa, namun segera menemukan jalannya sendiri.
Transformasi terbesar terjadi pada awal abad ke-17. Menyusul semakin kuatnya pengaruh Islam di kalangan elit dan masyarakat, serta untuk memperkuat legitimasi dalam jaringan kesultanan Nusantara, Kerajaan Melayu Jambi secara resmi berubah menjadi sebuah kesultanan. Pada tahun 1615, Pangeran Kedah naik takhta dengan gelar Sultan Abdul Kahar. Peristiwa ini menandai babak baru dimana identitas keislaman menjadi landasan negara, sekaligus membuka hubungan diplomatik yang setara dengan kerajaan-kerajaan Islam lain seperti Aceh, Johor, dan Banten.
Masa Kejayaan Kerajaan Melayu Jambi
Masa kepemimpinan Sultan Abdul Kahar menjadi era gemilang bagi Kesultanan Jambi. Kunci kejayaannya terletak pada dua hal: lokasi strategis dan komoditas unggulan. Jambi menguasai muara Sungai Batang Hari, pintu gerbang ke pedalaman Sumatra yang kaya. Komoditas andalannya adalah lada, rempah-rempah yang sangat dicari pasar Eropa.
Sultan yang cerdik ini menjalankan politik dagang yang independen dan tegas. Ia memonopoli perdagangan lada, menarik bea cukai yang menguntungkan, dan menolak tunduk pada tekanan VOC maupun Raja Johor. Kapal-kapal dari Portugis, Inggris, Belanda, China, Makassar, dan Jawa ramai berlabuh di pelabuhan Jambi. Catatan VOC menyebut, pada masa itu, ibu kota Kesultanan Jambi merupakan pelabuhan terkaya kedua di seluruh Sumatra, hanya setelah Aceh. Kemakmuran ini membangun istana yang megah, memperkuat militer, dan memakmurkan rakyat. Inilah puncak dari perjalanan panjang Kerajaan Melayu Jambi.
Faktor Kemunduran dan Akhir Kedaulatan
Sayangnya, kemilau emas lada tidak bertahan selamanya. Setelah Sultan Abdul Kahar turun tahta, penerusnya mulai terjerat dalam perjanjian dengan VOC yang sering kali merugikan. Faktor internal seperti konflik suksesi dan penyelundupan melemahkan ekonomi. Sementara itu, persaingan dengan pedagang Inggris dan Belanda semakin sengit.
Pukulan telak datang dari campur tangan politik dan militer Belanda. Perebutan tahta antara Sultan Thaha Syaifuddin (sultan yang anti-Belanda) dengan Sultan Ahmad Nazaruddin (yang didukung Belanda) menjadi dalih bagi Belanda untuk ikut campur. Perang pun meletus. Pada 1858, Belanda berhasil menduduki istana di Jambi. Sultan Thaha melanjutkan perlawanan secara gerilya dari pedalaman, menjadi simbol perlawanan terakhir kedaulatan Kerajaan Melayu Jambi.
Akhirnya, setelah Sultan Thaha gugur dalam penyergapan Belanda tahun 1904, riwayat kedaulatan politik Kesultanan Jambi benar-benar berakhir. Belanda secara resmi membubarkannya pada 1906. Tahta dan tradisi kesultanan kemudian hidup hanya dalam fungsi adat, seperti yang dipegang oleh Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin hingga tahun 2021.
Raja Kerajaan Melayu Jambi
Berikut adalah daftar para penguasa Kesultanan Jambi:
A. Era Awal / Masa Pra-Kesultanan (1460-1615)
- Datuk Paduko Berhalo dan Putri Selaras Pinang Masak (1460-1480) – Pendiri dan penguasa awal.
- Orang Kayo Pingai (1480-1490)
- Orang Kayo Kedataran (1490-1500)
- Orang Kayo Hitam (1500-1515)
- Pangeran Hilang di Air (1515-1540)
- Panembahan Rengas Pandak (1540-1565)
- Panembahan Bawah Sawo (1565-1590)
- Panembahan Kota Baru (1590-1615)
B. Era Kesultanan (1615)
- Sultan Abdul Kahar (Raja Sarip) (1615-1643) – Sultan pertama yang memeluk Islam.
- Pangeran Depati Anom/Sultan Abdul Djafri/Sultan Agung (1643-1665)
- Raden Penulis/Sultan Abdul Mahji/Sultan Ingologo (1665-1690)
- Raden Tjakra Negara/Pangeran Depati/Sultan Kiyai Gede (1690-1696)
- Sultan Mochamad Syah (1696-1740)
- Sultan Sri Ingologo (1740-1770)
- Sultan Zainuddin/Sultan Anom Sri Ingologo (1770-1790)
- Mas’ud Badaruddin/Sultan Ratu Sri Ingologo (1790-1812)
- Sultan Mahmud Muhieddin/Sultan Agung Sri Ingologo (1812-1833)
- Sultan Muhammad Fakhruddin bin Mahmud (1833-1841)
- Sultan Abdul Rahman Nazaruddin bin Mahmud (1841-1855)
C. Masa Pergolakan dan Intervensi Kolonial
- Sultan Thaha Syaifuddin bin Muhammad Fakhruddin (Masa pemerintahan pertama: 1855-1858) – Ditentang Belanda.
- Sultan Ahmad Nazaruddin bin Mahmud (1858-1881) – Diangkat Belanda saat Sultan Thaha masih aktif.
- Sultan Muhammad Muhieddin bin Abdul Rahman (1881-1885)
- Sultan Ahmad Zainul Abidin bin Muhammad (1885-1899)
- Sultan Thaha Syaifuddin bin Muhammad Fakhruddin (Masa pemerintahan kedua/pengakuan rakyat: 1900-1904) – Wafat dalam perlawanan terhadap Belanda.
* Setelah 1904, Belanda menghapuskan kedudukan Sultan dan menguasai Jambi secara langsung. - Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin (2012-2021) – Diangkat sebagai simbol adat, bukan penguasa politik.
Peninggalan Kerajaan Melayu Jambi
Meski kerajaannya telah runtuh, warisan Kerajaan Melayu Jambi masih bisa kamu telusuri dan saksikan hingga hari ini. Beberapa peninggalan yang menjadi saksi bisu kejayaannya antara lain:
- Kompleks Percandian Muaro Jambi: Salah satu kompleks candi Buddha terluas di Asia Tenggara, menunjukkan betapa kawasan ini telah menjadi pusat pendidikan dan keagamaan yang penting sejak era klasik, yang berkaitan dengan sejarah Malayu kuno sebelum era kesultanan.
- Masjid Agung Al-Falah Jambi: Dikenal sebagai “Masjid Seribu Tiang”, masjid ini merupakan simbol Islam yang kokoh di jantung kota, mencerminkan peradaban kesultanan.
- Makam Raja-Rajo di Taman: Tempat peristirahatan para sultan dan bangsawan Jambi, menjadi situs ziarah dan penghormatan sejarah.
- Istana Kesultanan Jambi: Meski telah mengalami renovasi, istana ini tetap menjadi ikon dan pusat simbolis adat Melayu Jambi.
- Rumah Batu Olak Kemang: Merupakan bangunan tua peninggalan kolonial yang merekam dinamika sejarah pada periode akhir kesultanan.
Warisan yang paling penting bukan hanya bangunan, tetapi juga identitas budaya, sistem adat, kearifan lokal, dan semangat kedaulatan yang terus hidup dalam masyarakat Jambi modern. Pada 2012, keturunan Sultan Thaha, Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin, dinobatkan kembali, namun lebih sebagai penjaga dan simbol adat, bukan pemegang kekuasaan politik.
Baca juga:
- Candi Tinggi di Kawasan Percandian Muaro Jambi
- Kompleks Candi Gedong I dan II, Muaro Jambi
- Candi Kembar Batu Muaro Jambi: Sejarah dan Nilai Budaya
- Candi Tinggi di Kawasan Percandian Muaro Jambi
- Lokasi dan Sejarah Candi Gumpung Muaro Jambi
- Sejarah Candi Kedaton Jambi, Pusat Peradaban Sriwijaya
Referensi
- https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Melayu
- Tasman, A. (2016). Menelusuri Jejak Kerajaan Melayu Jambi dan Perkembangannya.
- Iisseneini, N. Y., & Siregar, I. (2022). Proses islamisasi pada masa kerajaan melayu jambi. Krinok: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Sejarah, 1(3), 42-52.
- Marzali, A. (2023). Sejarah Awal Kerajaan Melayu Di Jambi: The Early History Of The Malay Kingdom In Jambi. Jurnal Pengajian Melayu (JOMAS), 34(2), 65-80.




