Mengenal 9 Jenis Makanan Khas Suku Kerinci

Makanan Khas Suku Kerinci

Makanan Khas Suku Kerinci

Menjelajahi surga kuliner Nusantara seolah tidak ada habisnya, selalu ada rasa penasaran yang menggelitik lidah untuk mencoba sesuatu yang baru dan otentik. Jika kamu termasuk petualang kuliner sejati, makanan khas suku Kerinci dari dataran tinggi Jambi ini wajib masuk daftar pencicipanmu. Bukan sekadar makanan, setiap hidangan menyimpan filosofi dan cerita leluhur yang diwariskan turun-temurun, menawarkan pengalaman rasa yang tidak akan kamu temukan di tempat lain.

Makanan Khas Suku Kerinci

Masyarakat Kerinci mewarisi kekayaan kuliner yang berakar kuat pada tradisi dan alam sekitar. Seporsi nasi hangat dengan lauk pauknya mampu bercerita tentang gunung, danau, dan hutan yang membentang di tanah leluhur mereka. Menyadur dari situs portalbpsdm.jambiprov.go.id, berikut rekomendasi hidangan autentik Makanan Khas Suku Kerinci yang bisa kamu coba.

1. Lemang Kantong Semar

Bayangkan menikmati lemang yang tidak dimasak dalam bambu, melainkan dalam kantong semar, atau yang oleh warga setempat disebut kancung beruk. Tumbuhan karnivora yang unik ini, yang banyak tumbuh di lereng Gunung Kerinci, menyumbangkan aroma khas seperti pandan dan rasa sedikit pahit yang malah membuat gurih santan dan ketan semakin terangkat. Proses pembuatannya pun penuh kehati-hatian, memastikan kantong tidak rusak saat diisi beras ketan pilihan, santan kental, dan garam, lalu dikukus hingga matang sempurna. Kamu bisa menikmatannya dengan dua cara: dengan kuah gulai yang kaya rempah untuk sensasi gurih-gurih pedas, atau dengan kuah srikaya manis yang legit untuk camilan sore yang sempurna. Prestisinya, hidangan langka ini pernah meraih penghargaan sebagai Makanan Tradisional Terpopuler dalam Anugerah Pesona Indonesia II tahun 2017, membuktikan keunikannya di kancah nasional.

2. Soto Semurup

Saat tiba di Kecamatan Semurup, kamu wajib mencari semangkuk Soto Semurup yang hangat. Yang membedakannya dari soto-soto lain di Sumatra adalah isiannya yang komplet dan unik. Di dalam mangkuk, kamu akan menemukan nasi, bihun, perkedel kentang, dan yang terpenting: potongan daging sapi yang digoreng kering hingga menyerupai dendeng. Daging goreng inilah yang memberikan tekstur “kres” dan rasa gurih yang lebih kompleks dibanding daging rebus biasa. Kuah kuning beningnya adalah hasil racikan remp-rempah pilihan, seperti jahe yang menghangatkan, lengkuas, kunyit, dan kapulaga yang harum. Kamu bisa menemukan soto legendaris ini di warung-warung sederhana sekitar pasar Semurup. Sajikan panas-panas, tambahkan sedikit perasan jeruk nipis dan sambal, lalu nikmati perpaduan tekstur yang luar biasa dalam satu suapan.

3. Gulai Ikan Semah

Berbicara tentang hidangan istimewa, Gulai Ikan Semah tidak boleh terlewatkan. Ikan semah adalah ikan air tawar langka yang hanya bisa hidup di sungai berarus deras dan jernih seperti Batang Merangin yang mengalir dari Danau Kerinci. Dagingnya yang putih dan padat memiliki tekstur unik, dan yang menarik, sisiknya yang besar dan kenyal justru menjadi bagian yang paling dinanti karena rasanya yang gurih. Ikan semah biasanya diolah dengan kuah gulai berbasis santan kental yang diperkaya dengan asam sunti (belimbing wuluh kering), daun kunyit, dan serai, menghasilkan cita rasa pedas dan sedikit asam yang menyegarkan. Karena kelangkaannya dan habitatnya yang sulit, harga kuliner ini memang cukup tinggi, namun setiap suapan sepadan dengan kenikmatannya yang langka.

4. Dodol Kentang

Dataran tinggi Kerinci yang subur menjadikannya salah satu sentra penghasil kentang terbesar di Indonesia. Kreativitas masyarakat setempat kemudian mengolah hasil bumi ini menjadi dodol kentang, sebuah inovasi kuliner yang cemerlang. Berbeda dengan dodol kebanyakan yang padat dan lengket, dodol kentang memiliki tekstur lembut, lumer di mulut, dengan rasa manis yang pas dan tidak enek. Proses pembuatannya memerlukan kesabaran; kentang granola dikukus, dihaluskan, lalu dimasak berjam-jam bersama gula merah, santan, dan sedikit tepung hingga adonan mengental dan matang sempurna. Kini, camilan ini hadir dalam berbagai varian rasa seperti original, durian, pandan, hingga cokelat, dan menjadi oleh-oleh favorit karena kemasannya yang menarik dan daya tahannya yang lama.

5. Ketan Durian

Jika kamu penggemar durian, Ketan Durian adalah surga yang wajib kamu singgahi. Hidangan penutup ini memadukan dua bahan utama berkualitas: ketan putih yang dimasak dengan santan hingga pulen dan harum, serta daging durian lokal yang matang pohon, manis, dan legit. Masyarakat Kerinci biasanya tidak hanya menyajikan durian di atas ketan, tetapi juga memasaknya sebentar bersama santan hingga tercipta saus durian yang kental dan wangi. Hasilnya adalah harmoni rasa yang sempurna, di mana gurihnya ketan beradu dengan manisnya durian. Hidangan ini sering hadir dalam acara keluarga, kenduri, atau sekadar santapan istimewa di rumah, menawarkan sensasi mewah di setiap suapan.

6. Nasi Beras Payo

Di balik kelezatan lauk-pauk Kerinci, ada Nasi Beras Payo yang menjadi fondasi utamanya. Beras payo adalah varietas padi lokal yang telah dibudidayakan secara turun-temurun di dataran tinggi Kerinci. Beras ini memiliki butiran yang lebih besar dan tekstur yang lebih pulen dibandingkan beras biasa, dengan aroma yang harum saat baru ditanak. Petani menanam padi ini dengan cara tradisional, memanfaatkan kesuburan tanah vulkanik dan air pegunungan yang jernih. Kemampuan nasi ini dalam menyerap dan menguatkan cita rasa bumbu dari lauk seperti Dendeng Batokok atau Gulai Ikan Semah menjadikannya pasangan yang sempurna, menciptakan harmoni yang utuh di setiap hidangan.

7. Air Sebuk Kawo

Saat udara dingin pegunungan menyelimuti Kerinci, tidak ada yang lebih nikmat selain menyesap hangatnya Air Sebuk Kawo. Minuman tradisional ini sangat unik karena terbuat dari tunas muda daun kopi yang dikeringkan, bukan bijinya. Masyarakat Kerinci, sejak masa penjajahan Belanda, sudah memanfaatkan daun kopi yang melimpah untuk diseduh menjadi minuman penambah stamina dan penghangat tubuh. Proses penyeduhan dan penyajiannya pun sarat kearifan lokal: air panas dituang ke dalam tempurung kelapa yang sudah dibersihkan, memberikan aroma khas kayu yang menambah kenikmatan. Secangkir air sebuk kawo dipercaya mampu mengembalikan energi setelah seharian beraktivitas, seolah menghangatkan tubuh dan jiwa.

8. Dendeng Batokok

Dendeng Batokok adalah bukti bahwa proses pembuatan yang sederhana namun telaten mampu menghasilkan cita rasa yang kompleks. Batokok dalam bahasa Minang berarti “dipukul”. Irisan tipis daging sapi (dulu menggunakan daging rusa) dipukul-pukul dengan batu cobek hingga pipih dan seratnya memar. Proses ini tidak hanya melunakkan daging, tetapi juga membuka pori-porinya agar bumbu meresap sempurna saat dimarinasi dengan campuran bawang, ketumbar, dan lengkuas. Setelah itu, daging dijemur atau dioven sebentar, lalu digoreng hingga kering. Hasilnya adalah lembaran daging yang renyah di luar namun tetap sedikit empuk di dalam, dengan rasa manis-asin yang khas dan aroma bakar yang menggoda. Sajikan dengan sambal cair dan nasi panas, dijamin kamu akan terus nambah.

9. Sambal Cabai Suhin

Di Kerinci, sambal bukan sekadar pelengkap, melainkan identitas. Sambal Cabai Suhin adalah warisan leluhur yang membuktikan hal tersebut. Bahan utamanya bukan cabai semata, melainkan pucuk muda daun surian, pohon yang kayunya sering digunakan untuk bahan bangunan. Pucuk surian difermentasi atau ditumbuk halus, kemudian dimasak bersama cabai merah, tomat, bawang, dan terasi. Proses fermentasi inilah yang menciptakan keistimewaan sambal suhin: cita rasanya yang kompleks, perpaduan gurih, pedas, dan sedikit asam, serta daya tahannya yang bisa mencapai 3-4 hari tanpa pendingin. Bahkan, konon rasanya semakin enak setelah didiamkan. Dulu, para petani membawa sambal ini sebagai bekal saat menginap di ladang, karena tidak mudah basi dan selalu lezat menemani nasi dan lauk seadanya.

Bila artikel ini bermanfaat, bagikan kepada teman-teman pecinta kuliner agar mereka juga mengenal kekayaan rasa dari dataran tinggi Jambi.

Setiap perjalanan meninggalkan cerita, dan setiap makanan khas suku Kerinci menyimpan sejuta rasa yang akan terus membekas di ingatan, membisikkan panggilan untuk kembali.

Baca juga:

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apa makanan khas suku Kerinci yang paling direkomendasikan untuk wisatawan?

Gulai Ikan Semah dan Dendeng Batokok menjadi dua hidangan yang paling dicari. Gulai Ikan Semah menawarkan cita rasa ikan langka dengan kuah rempah yang kaya, sementara Dendeng Batokok menghadirkan sensasi daging empuk dengan bumbu meresap khas dataran tinggi.

2. Di mana tempat terbaik untuk mencicipi Lemang Kantong Semar?

Kamu bisa menemukan Lemang Kantong Semar di Desa Wisata Lempur, Kecamatan Gunung Raya. Desa ini dikenal sebagai sentra pembuatan lemang unik tersebut, terutama saat acara adat Kenduri Suko atau hari besar tertentu .

3. Apakah ada oleh-oleh khas Kerinci yang tahan lama untuk dibawa pulang?

Dodol Kentang dan Sambal Cabai Suhin menjadi pilihan tepat. Dodol Kentang tersedia dalam kemasan menarik dengan berbagai varian rasa, sementara Sambal Cabai Suhin bisa bertahan beberapa hari tanpa bahan pengawet .

4. Mengapa ikan semah termasuk bahan makanan yang langka dan mahal?

Ikan semah hanya hidup di sungai berarus deras dan sulit dibudidayakan. Populasinya terbatas sementara permintaan tinggi, sehingga harga jualnya menjadi mahal. Ikan ini juga dilindungi di beberapa kawasan konservasi .

5. Bagaimana cara menikmati Air Sebuk Kawo yang autentik?

Air Sebuk Kawo paling nikmat disajikan panas dalam tempurung kelapa. Kamu bisa menikmatinya tanpa gula untuk merasakan cita rasa asli daun kopi, atau menambahkan sedikit gula aren sesuai selera. Minuman ini sangat cocok menemani malam dingin di dataran tinggi Kerinci .

Scroll to Top