Sejarah Desa Sade Lombok
Sejarah Desa Sade Lombok membentang lebih dari 1.500 tahun, menjadikannya sebagai saksi bisu perjalanan panjang peradaban Suku Sasak di Pulau Lombok . Terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, perkampungan adat ini menyimpan kekayaan tradisi yang masih bertahan di tengus gempuran modernisasi. Desa Sade berdiri sebagai representasi otentik Suku Sasak, dengan segala keunikan arsitektur, sistem sosial, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Akar Sejarah Suku Sasak dan Berdirinya Desa Sade
Suku Sasak sebagai penghuni asli Pulau Lombok diyakini telah mendiami wilayah ini sejak 4000 tahun sebelum Masehi . Para ahli memperkirakan bahwa Suku Sasak merupakan hasil percampuran antara penghuni asli Pulau Lombok dengan pendatang dari Pulau Jawa yang datang menggunakan sampan . Nama “Sasak” sendiri berasal dari kata sak-sak yang berarti sampan, merujuk pada cara kedatangan nenek moyang mereka dari arah barat .
Desa Sade telah menjadi permukiman Suku Sasak selama kurang lebih 1.500 tahun. Nama “Sade” dalam bahasa Sasak menyimpan filosofi mendalam tentang “tempat yang aman”, merujuk pada lokasi geografisnya yang dikelilingi pegunungan sehingga terlindung dari berbagai ancaman luar. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan Desa Sade secara resmi sebagai desa wisata pada tahun 1989 melalui SK Gubernur, setelah sebelumnya dikenal sejak 1982 .
Kamu akan menemukan bahwa desa seluas 5,5 hektar ini dihuni oleh sekitar 150 kepala keluarga dengan total 700 jiwa . Menariknya, masyarakat Sade justru mempertahankan jumlah penduduk agar tidak melampaui angka tersebut demi menjaga kelestarian desa . Semua penghuni desa masih terikat dalam satu garis keturunan karena mereka mempraktikkan perkawinan antar saudara secara turun-temurun .
Arsitektur Tradisional
Saat kamu melangkahkan kaki memasuki Desa Sade, kamu akan disambut oleh deretan rumah adat yang disebut bale. Arsitektur tradisional ini menggunakan bahan-bahan alami sepenuhnya: dinding dari anyaman bambu, atap dari alang-alang atau ijuk kering, serta lantai dari campuran tanah liat dan sekam padi . Menariknya, konstruksi rumah ini tidak menggunakan paku logam, melainkan pasak bambu yang justru membuat bangunan tahan gempa.
Masyarakat Sade membedakan rumah berdasarkan fungsinya menjadi beberapa jenis :
Bale Bonter berfungsi sebagai rumah pejabat desa sekaligus tempat persidangan adat. Bale Kodong diperuntukkan bagi warga lanjut usia atau pasangan baru yang belum memiliki tempat tinggal sendiri. Sementara Bale Tani menjadi hunian utama bagi masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.
Salah satu ciri paling khas dari rumah adat Sade adalah bagian depan yang sengaja dibuat rendah. Setiap orang yang masuk harus menunduk, melambangkan kerendahan hati dan penghormatan kepada pemilik rumah. Hal ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai spiritual dan etika masyarakat Sasak terwujud dalam setiap aspek kehidupan, bahkan dalam desain bangunan sekalipun.
Tradisi Belulut
Kamu mungkin akan terkejut mengetahui cara masyarakat Sade merawat lantai rumah mereka. Tradisi yang disebut belulut ini merupakan praktik melumuri lantai tanah liat dengan kotoran kerbau atau sapi yang dilakukan secara rutin .
Anggi (33), seorang warga Desa Sade, menjelaskan bahwa ia melakukan belulut sebanyak dua kali dalam seminggu untuk membersihkan seluruh lantai rumahnya . Sekilas terlihat tidak lazim, namun tradisi warisan leluhur ini menyimpan berbagai manfaat ekologis. Kotoran ternak berfungsi mengikat debu, menguatkan permukaan lantai, serta mengusir serangga terutama nyamuk karena aromanya yang tidak disukai. Masyarakat percaya cara ini membuat lantai lebih hangat di malam hari dan sejuk di siang hari .
Menariknya, meskipun beberapa warga sudah membuat plester semen terlebih dahulu, mereka tetap mengolesi permukaannya dengan kotoran kerbau. Praktik belulut membuktikan bahwa kearifan lokal masyarakat Sade mampu menciptakan solusi ramah lingkungan yang efektif jauh sebelum teknologi modern dikenal.
Tradisi Menenun
Bagi perempuan di Desa Sade, kemampuan menenun bukan sekadar keterampilan, melainkan bagian dari identitas dan harga diri. Para gadis diwajibkan belajar menenun sejak usia 7-10 tahun, dan mereka belum diperbolehkan menikah sebelum mahir menenun .
Kain tenun ikat Sasak yang dihasilkan memiliki motif dan filosofi tersendiri. Beberapa jenis tenun khas seperti songke, ragi genap, dan tampu kemalu menjadi andalan masyarakat Sade dan sangat diminati wisatawan. Para perempuan menenun menggunakan alat tradisional sambil menjalankan peran mereka sebagai ibu rumah tangga.
Kegiatan menenun juga menjadi sumber penghidupan tambahan di sela-sela menunggu musim panen, karena mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani padi tadah hujan yang hanya panen setahun sekali . Sepanjang lorong desa, kamu akan melihat lapak-lapak sederhana di teras rumah yang memamerkan songket warna-warni hasil karya warga.
Sistem Sosial dan Kepercayaan
Masyarakat Desa Sade menganut sistem kekerabatan patrilineal, di mana garis keturunan mengikuti pihak ayah. Dulu, sebagian besar penduduk menganut Islam Wektu Telu, sebuah sinkretisme antara ajaran Islam dengan kepercayaan lokal yang hanya mewajibkan tiga kali sholat dalam sehari . Namun seiring perkembangan zaman, kini mayoritas warga telah memeluk Islam sepenuhnya . Meski demikian, semangat kebersamaan dan gotong royong tetap mengakar kuat dalam keseharian mereka.
Tradisi Perkawinan Merariq
Salah satu warisan budaya yang paling menarik dari masyarakat Sade adalah tradisi Merariq atau kawin culik. Dalam prosesi ini, seorang pemuda akan “menculik” pujaannya untuk kemudian menikah, sebagai simbol keberanian dan keseriusan. Tempat pertemuan sebelum “penculikan” biasanya berlangsung di Pohon Cinta, sebuah titik ikonik di Desa Sade yang kini menjadi spot favorit wisatawan .
Pengakuan dan Perkembangan Desa Wisata
Desa Sade telah diakui secara resmi oleh Kementerian Pariwisata pada tahun 1993 . Lokasinya yang strategis di pinggir Jalan Raya Praya-Kuta memudahkan akses bagi wisatawan . Dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, kamu hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 15 menit, sementara dari kawasan The Mandalika hanya 5 menit .
Pada Agustus 2025, Wakil Presiden Gibran Rakabuming mengunjungi Desa Sade untuk menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat sektor pariwisata berbasis budaya dan pemberdayaan UMKM. Kunjungan ini sekaligus menunjukkan sinergi antara kebijakan nasional dan kebutuhan lokal untuk mewujudkan pembangunan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan .
Wisatawan mancanegara dari Spanyol, Italia, Belanda, dan Prancis mendominasi kunjungan ke Desa Sade, terutama saat musim liburan . Mereka tertarik pada keaslian budaya dan keramahan masyarakat lokal. Philippe dan Elisabeth Tretiack, wisatawan asal Prancis, mengaku sangat senang berkunjung ke Desa Sade karena dapat merasakan langsung kehidupan masyarakat Sasak yang autentik.
Tantangan dan Pelestarian di Era Modern
Meskipun listrik dan program pemerintah sudah masuk ke Desa Sade, masyarakat tetap berkomitmen mempertahankan keaslian desa mereka . Mereka menjadikan tradisi sebagai sumber penghidupan tanpa harus mengorbankan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kalbar, Windy Prihastari, menyebut apa yang dilakukan masyarakat Desa Sade sangat inspiratif. “Mereka tidak hanya menjaga tradisi, tapi menjadikannya sebagai sumber penghidupan,” ujarnya saat berkunjung ke desa tersebut .
Bagimu yang berkunjung, ada beberapa hal perlu diperhatikan. Kamu dapat memberikan kontribusi sukarela sebagai uang kebersihan di pintu masuk . Jagalah kebersihan dengan menyimpan sampah sampai menemukan tempat sampah. Hormati aturan adat setempat, misalnya dengan tidak memasuki area yang dilarang. Jika ingin berfoto, mintalah izin terlebih dahulu kepada warga. Yang terpenting, nikmati interaksi dengan masyarakat dan belajarlah langsung dari mereka tentang kekayaan budaya Sasak.
Desa Sade membuktikan bahwa modernisasi tidak harus mengorbankan tradisi. Mereka menjadi contoh bagaimana kearifan lokal dapat berjalan beriringan dengan perkembangan zaman. Perkampungan adat ini bukan sekadar tujuan wisata, melainkan museum hidup yang terus berdenyut, tempat setiap generasi muda Sasak belajar menghargai warisan leluhur sambil meraih masa depan.
Bagaimana menurutmu tentang keunikan Desa Sade? Bagikan artikel ini kepada teman-temanmu yang tertarik dengan wisata budaya agar mereka juga mengetahui kekayaan tradisi Nusantara. Dengan berbagi, kamu turut serta melestarikan warisan budaya Indonesia.
Baca juga:
- Mengenal Lebih Dekat Pantai Gerupuk, Destinasi Wisata Andalan di Lombok Tengah
- Pantai Seger Lombok Tengah: Lokasi, Rute, dan Tiket Masuk
- Sejarah dan Keindahan Pantai Tanjung Aan Lombok Tengah
- Bukit Merese Lombok: Sejarah, Keindahan, Rute, dan Harga Tiket Masuk
- Bukit Merese Lombok: Sejarah, Keindahan, Rute, dan Harga Tiket Masuk




