Candi Muaro Jambi: Sejarah, Keunikan, Fungsi, dan Luasnya

Candi Muaro Jambi

Candi Muaro Jambi

Candi Muaro Jambi menyimpan sejuta pesona sebagai kompleks percandian Buddha terluas di Asia Tenggara. Terletak di tepi Sungai Batanghari, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, situs bersejarah ini membentang seluas 3.981 hektar atau setara dengan 12 kilometer persegi . Kamu mungkin bertanya-tanya, apa yang membuat candi ini begitu istimewa? Lebih dari sekadar tumpukan bata kuno, kawasan ini adalah saksi bisu kejayaan masa lampau yang berdenyut sebagai pusat pendidikan dan spiritual internasional.

Sejarah Candi Muaro Jambi

Candi Muaro Jambi
Candi Tinggi (Sumber Gambar: Instagram CandiMuaroJambi)

Perjalanan Candi Muaro Jambi mulai terungkap ketika seorang letnan Inggris, S.C. Crooke, pertama kali melaporkan keberadaannya pada tahun 1824. Namun, perhatian serius dari pemerintah Indonesia baru datang pada tahun 1975. Arkeolog ternama, R. Soekmono, yang juga memugar Candi Borobudur, memimpin pemugaran perdana di situs ini.

Para ahli meyakini, Kompleks Candi Muaro Jambi berdiri antara abad ke-7 hingga ke-12 Masehi. Ini merupakan peninggalan agung dari peradaban Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu kuno. Bahkan, Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya menyebut kawasan ini sebagai pusat pendidikan tertua di Asia, tempat para biksu dan pelajar dari India, Tiongkok, hingga Tibet menimba ilmu, tidak hanya agama Buddha, tetapi juga kedokteran, filsafat, arsitektur, dan seni .

Keunikan Candi Muaro jambi

Candi Muaro Jambi
Kawasan Candi Muaro Jambi

Apa yang membuat situs Muaro Jambi berbeda? Mari kita telusuri keunikannya.

  • Dengan luas mencapai 3.981 hektar, kawasan ini jauh lebih luas dari kompleks Candi Borobudur. Bahkan, luasnya disebut-sebut melebihi situs megah Angkor Wat di Kamboja yang hanya sekitar 163 hektar. Kompleks ini membentang sepanjang 7,5 kilometer mengikuti aliran Sungai Batanghari .
  • Berbeda dengan candi di Jawa yang banyak menggunakan batu andesit, Candi Muaro Jambi dibangun dari susunan bata merah berkualitas tinggi yang merekat kuat tanpa semen. Kamu bisa melihat sendiri betapa rapi dan kokohnya teknologi bangunan pada masa itu.
  • Leluhur kita sudah sangat pintar membaca alam. Mereka membangun parit, kanal kuno, dan kolam di sekitar candi. Sistem ini berfungsi ganda, sebagai jalur transportasi air dan pengendali banjir di kawasan rawa. Kearifan ini membuat peradaban di Muaro Jambi bertahan berabad-abad .
  • Para arkeolog menemukan berbagai artefak asing seperti keramik, manik-manik dari Persia, India, dan China, serta gong perunggu bertuliskan aksara China . Ini membuktikan bahwa tempat ini adalah melting pot budaya dan pusat pembelajaran bergengsi, seperti “Oxford dan Cambridge”-nya Asia Tenggara pada abad pertengahan.

Candi-Candi Utama yang Telah Dipugar

Candi Muaro Jambi
Candi Gedong Dua (Sumber Gambar: Instagram CandiMuaroJambi)

Dari 110 bangunan candi dan 85 menapo (gundukan tanah yang diduga menyimpan struktur bangunan), baru sembilan candi yang telah dipugar dan dapat kamu jelajahi . Berikut beberapa yang paling ikonik:

  • Candi Gumpung: Candi ini sering dijuluki “Little Angkor” dan merupakan salah satu yang paling terkenal. Di sini, para arkeolog menemukan arca Prajnaparamita dan gong perunggu bersejarah.
  • Candi Tinggi: Sesuai namanya, candi ini menjulang tinggi di antara candi lainnya.
  • Candi Kedaton: Sebagai pusat kegiatan utama, candi ini berukuran paling besar. Di kompleksnya, kamu bisa melihat sumur tua yang usianya dipercaya sama dengan candi.
  • Candi Kembar Batu: Dua bangunan yang berdiri berdekatan dengan susunan bata yang unik .
  • Candi Astano: Situs ini dikelilingi parit dan saat banjir besar, warga setempat bahkan menggelar pasar apung dadakan di sekitarnya .

Peta Lokasi

Informasi Kunjungan

Siap menjelajah sejarah? Sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN), tempat ini sangat ramah untuk wisatawan.

  • Lokasi: Desa Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Sekitar 26 kilometer atau 30-45 menit berkendara dari pusat Kota Jambi .
  • Jam Buka: Setiap hari, pukul 08.00 – 18.00 WIB .
  • Harga Tiket: Cukup terjangkau, sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 per orang. Untuk parkir, motor dikenakan biaya Rp2.000 – Rp3.000 dan mobil Rp5.000. Kamu juga bisa menyewa sepeda (Rp10.000 – Rp20.000), motor listrik (Rp50.000), atau becak motor untuk berkeliling kompleks yang luas ini .

Tantangan Pelestarian dan Wajah Baru Candi

Perjalanan menjaga warisan dunia ini tidak mudah. Kawasan Candi Muaro Jambi sempat menghadapi tantangan serius, seperti eksploitasi industri sawit dan batubara di sekitar situs. Namun, pemerintah terus berupaya memitigasi dampak tersebut.

Kabar baiknya, revitalisasi besar-besaran yang dimulai tahun 2024 kini hampir rampung. Candi Muaro Jambi hadir dengan wajah baru yang lebih modern dan futuristik tanpa menghilangkan nilai sejarahnya. Sebuah museum cagar budaya baru telah dibangun untuk menyimpan ribuan artefak, seperti arca, makara, dan serpihan sejarah lainnya. Pemugaran juga dilakukan pada candi-candi tambahan seperti Candi Kotomahligai, Candi Parit Duku, dan Candi Sialang . Dengan fasilitas yang semakin membaik, akses jalan yang diperbaiki, dan sistem tiket elektronik yang akan segera diterapkan, kunjunganmu pasti akan semakin nyaman.

Sebagai generasi penerus, sudah menjadi tugas kita bersama untuk menjaga dan melestarikan mahakarya ini. Candi Muaro Jambi bukan hanya tumpukan bata kuno, melainkan denyut nadi peradaban Sumatera yang harus terus berdetak.

Punya pengalaman seru atau foto menarik saat berkunjung ke situs Muaro Jambi? Jangan ragu untuk membagikannya di media sosial dan tag teman-temanmu. Ajak mereka ikut menyaksikan sendiri bagaimana agungnya warisan leluhur di bumi Jambi. Mari kita rawat sejarah, karena dari masa lalu, kita belajar melangkah ke masa depan yang lebih gemilang.

Baca juga:

Referensi

  1. Syaputra, M. A. D., Sariyatun, S., & Ardianto, D. T. (2020). Pemanfaatan situs purbakala candi muaro jambi sebagai objek pembelajaran sejarah lokal di era digital. Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia3(1), 77-87.
  2. Pamungkas, S., & Agustiningsih, N. (2018). Candi Muaro Jambi: Kajian Cerita Rakyat, Arkeologi, Dan Pariwisata. Istoria: Jurnal Ilmiah Pendidikan Sejarah Universitas Batanghari2(2), 49-62.
  3. Bagdadi, M. J. (2020). SEJARAH PARIWISATA; CANDI MUARO JAMBI 1990-2011. JURNAL SEJARAH PARIWISATA; CANDI MUARO JAMBI 1990-2011.

Pertanyaan yang Sering Kamu Tanyakan (FAQ)

Berikut adalah beberapa pertanyaan umum seputar percandian Muaro Jambi yang mungkin berguna untuk rencana perjalananmu:

Apa fungsi utama Candi Muaro Jambi pada masa lalu?

Kompleks ini berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pembelajaran agama Buddha (khususnya aliran Buddha Mahayana Tantrayana) yang berskala internasional, tempat para biksu dan pelajar mempelajari agama, filsafat, kedokteran, dan seni.

2. Siapa yang membangun Candi Muaro Jambi?

Candi ini merupakan peninggalan dari peradaban Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu kuno yang berkuasa di Pulau Sumatera pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi .

3. Apakah Candi Muaro Jambi sudah menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO?

Saat ini, situs ini masih dalam daftar tentatif (tentative list) UNESCO sejak tahun 2009 dan terus didorong untuk mendapatkan status penuh sebagai Warisan Dunia.

4. Berapa lama waktu yang ideal untuk berkeliling?

Karena luasnya mencapai ribuan hektar, kamu disarankan menyediakan waktu setidaknya 2-3 jam untuk mengunjungi candi-candi utama dan menikmati suasananya. Kamu bisa menyewa sepeda untuk efisiensi waktu dan tenaga.

5. Apa saja fasilitas yang tersedia di kawasan Candi Muaro Jambi?

Fasilitasnya cukup lengkap, meliputi area parkir luas, toilet, mushola, tempat kuliner, penginapan di sekitar lokasi, area piknik, serta penyewaan sepeda dan becak motor.

    Photo-Photo

    Candi Gumpung
    Candi Kedaton
    Kunjungan Wisata di komplek Candi
    Scroll to Top