Pasal-Pasal Sila ke-1 sampai 5 Pancasila dalam UUD 1945: Daftar dan Artinya

Pasal-Pasal Sila ke-1 sampai 5 Pancasila dalam UUD 1945

Pasal-Pasal Sila ke-1 sampai 5 Pancasila dalam UUD 1945

Pasal-Pasal Sila ke-1 sampai 5 Pancasila dalam UUD 1945, bukan dalam rumusan sila itu sendiri. Secara ringkas, sila 1 bertumpu pada Pasal 29, sila 2 pada Pasal 28A–28J, sila 3 pada Pasal 1 ayat (1), 26, dan 36, sila 4 pada Pasal 1 ayat (2) dan 6A, serta sila 5 pada Pasal 33 dan 34. Artikel ini membantu kamu, sebagai dosen, ASN, atau guru, memahami hubungan itu secara runtut.

Apa saja Pasal-Pasal Sila ke-1 sampai 5 Pancasila dalam UUD 1945?

Pasal-pasal itu berada dalam UUD 1945, bukan dalam rumusan sila. Pembukaan alinea keempat memuat lima sila, lalu batang tubuh menjabarkannya: Pasal 29 untuk sila 1, Pasal 28A–28J untuk sila 2, Pasal 1 ayat (1), 26, dan 36 untuk sila 3, Pasal 1 ayat (2) dan 6A untuk sila 4, serta Pasal 33 dan 34 untuk sila 5.

1. Bunyi kelima sila dalam Pembukaan UUD 1945

Rumusan kelima sila dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat adalah sebagai berikut:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

2. Beda sila, butir pengamalan, dan pasal

Namun, banyak orang menyamakan sila, butir pengamalan, dan pasal. Padahal, fungsi ketiganya berbeda. Sila adalah rumusan nilai dasar, sedangkan pasal adalah norma hukum yang mengikat. Butir pengamalan, misalnya 36 butir dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) menurut Tap MPR Nomor II/MPR/1978, berfungsi sebagai panduan perilaku. Kemudian, MPR mencabut ketetapan itu lewat Tap MPR Nomor XVIII/MPR/1998.

3. Sejarah singkat

Soekarno menyebut nama Pancasila dalam pidatonya pada 1 Juni 1945. Setelah itu, rumusan Piagam Jakarta menyusul pada 22 Juni 1945 dan berbeda pada sila pertama. Akhirnya, PPKI mengesahkan rumusan final bersama UUD 1945 pada 18 Agustus 1945.

Pasal UUD 1945 apa yang menjabarkan sila ke-1?

Pasal 29 UUD 1945 menjabarkan sila ke-1, Ketuhanan Yang Maha Esa. Ayat (1) menegaskan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Selanjutnya, ayat (2) menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agamanya dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya. Dengan demikian, kedua ayat ini menjadi rujukan utama kebebasan beragama di Indonesia.

Selain itu, Pasal 28E ayat (1) menyatakan bahwa setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. Pasal 28I ayat (1) bahkan menyebut hak beragama sebagai hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun. Karena itu, kamu dapat menjelaskan bahwa sila 1 menekankan jaminan kebebasan, bukan paksaan.

Pasal mana yang memuat sila ke-2, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab?

Sila ke-2 paling jelas tampak dalam Pasal 28A sampai 28J UUD 1945 tentang hak asasi manusia. Selain itu, Pasal 27 ayat (1) menambahkan prinsip kesamaan kedudukan semua warga negara di dalam hukum dan pemerintahan. Dengan demikian, negara wajib menghormati martabat setiap manusia tanpa membeda-bedakan.

Sebagai contoh, Pasal 28A menjamin hak hidup, dan Pasal 28D ayat (1) menjamin perlakuan yang sama di hadapan hukum. Lebih lanjut, Pasal 28I ayat (2) melindungi setiap orang dari perlakuan diskriminatif. Ayat (4) pada pasal yang sama menyebut perlindungan HAM sebagai tanggung jawab negara, terutama pemerintah. Oleh karena itu, guru dan ASN bisa mengaitkan pasal ini dengan layanan publik yang adil dan setara.

Pasal apa saja yang mencerminkan sila ke-3, Persatuan Indonesia?

Sila ke-3 tercermin dalam Pasal 1 ayat (1) yang menyatakan Indonesia sebagai negara kesatuan berbentuk republik. Selanjutnya, Pasal 36 menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, sedangkan Pasal 26 ayat (1) mengatur siapa yang menjadi warga negara. Ketiga pasal ini menjaga identitas bersama dalam keberagaman bangsa.

Simbol persatuan juga punya dasar pasal. Misalnya, Pasal 35 mengatur bendera Sang Merah Putih, Pasal 36A mengatur lambang Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, dan Pasal 36B mengatur lagu kebangsaan Indonesia Raya. Di samping itu, Pasal 32 ayat (1) mendorong negara memajukan kebudayaan nasional sambil menjamin kebebasan masyarakat memelihara nilai budayanya.

Pasal berapa yang menjabarkan sila ke-4 tentang kerakyatan?

Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 menjadi dasar sila ke-4 karena menyatakan kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang dasar. Selain itu, Pasal 6A ayat (1) mengatur pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung oleh rakyat. Terakhir, lembaga perwakilan dan pemilihan umum melengkapinya lewat Pasal 19 dan Pasal 22E.

Pasal 19 ayat (1) menetapkan bahwa rakyat memilih anggota DPR melalui pemilihan umum. Kemudian, Pasal 22E ayat (1) menyebut asas pemilu: langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Sementara itu, Pasal 28 memuat dasar kemerdekaan berserikat dan berkumpul, yang menopang musyawarah dan partisipasi warga.

Pasal mana yang mewujudkan sila ke-5, keadilan sosial?

Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945 menjadi rujukan utama sila ke-5. Pertama, Pasal 33 mengatur perekonomian berdasar asas kekeluargaan serta penguasaan bumi, air, dan kekayaan alam oleh negara untuk kemakmuran rakyat. Kedua, Pasal 34 menugaskan negara memelihara fakir miskin dan anak terlantar serta mengembangkan sistem jaminan sosial.

Selain kedua pasal itu, Pasal 27 ayat (2) menjamin hak setiap warga negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Lebih jauh, Pasal 28H ayat (1) mengakui hak hidup sejahtera lahir dan batin, tempat tinggal, serta pelayanan kesehatan. Dengan demikian, keadilan sosial dalam UUD 1945 mencakup ekonomi, pekerjaan, kesehatan, dan jaminan sosial.

Tabel ringkasan pasal untuk kelima sila

Tabel di bawah merangkum sila, lambang, pasal UUD 1945 yang paling sering dirujuk, dan inti isi pasalnya. Kamu bisa memakainya sebagai bahan ajar, slide kuliah, atau catatan cepat. Namun, daftar ini mencakup pasal utama saja, karena banyak pasal lain ikut menjabarkan nilai yang sama.

SilaLambangPasal utama UUD 1945Inti pasal
1. Ketuhanan Yang Maha EsaBintangPasal 29 ayat (1) dan (2)Dasar ketuhanan negara dan jaminan kebebasan beragama
2. Kemanusiaan yang Adil dan BeradabRantaiPasal 28A–28J; Pasal 27 ayat (1)Hak asasi manusia dan kesamaan kedudukan
3. Persatuan IndonesiaPohon beringinPasal 1 ayat (1); Pasal 26 ayat (1); Pasal 36Negara kesatuan, kewarganegaraan, bahasa negara
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/PerwakilanKepala bantengPasal 1 ayat (2); Pasal 6A ayat (1)Kedaulatan rakyat dan pemilihan langsung
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat IndonesiaPadi dan kapasPasal 33; Pasal 34Ekonomi kekeluargaan dan jaminan sosial

Cara menjelaskan pasal-pasal ini agar mudah dipahami

Kaitkan setiap sila dengan satu pasal kunci, lalu hubungkan dengan contoh konkret dari lingkungan kerja atau kelas. Dengan cara ini, peserta lebih mudah mengingat pasal lewat cerita, bukan sekadar hafalan. Mulailah dari rumusan sila, lanjutkan ke bunyi pasal, dan tutup dengan diskusi kasus.

Kamu bisa mengikuti langkah berikut:

  1. Pertama, mulai dari bunyi sila dan satu kata kunci, misalnya ketuhanan atau kedaulatan rakyat.
  2. Kedua, bacakan bunyi pasal dari teks resmi UUD 1945, bukan dari ingatan.
  3. Ketiga, hubungkan pasal dengan contoh dari lingkungan kamu, seperti pelayanan publik, ruang kelas, atau kampus.
  4. Berikutnya, minta peserta mencocokkan sebuah kasus dengan pasal yang relevan.
  5. Terakhir, tutup dengan ringkasan satu kalimat untuk tiap sila.

Kesalahan umum yang perlu kamu hindari

  • Menulis bahwa sila punya nomor pasal sendiri.
  • Menyamakan butir pengamalan P4 dengan pasal.
  • Memakai nomor pasal tanpa memeriksa amandemen, padahal Pasal 28A–28J masuk lewat amandemen kedua pada 2000 dan Pasal 6A lewat amandemen ketiga pada 2001.
  • Menyebut satu pasal saja, padahal banyak pasal menjabarkan nilai yang sama.

Simpan artikel ini sebagai bahan ajar, lalu bagikan ke rekan sesama dosen, ASN, dan guru. Setelah itu, tulis di medsosmu pasal mana yang paling sering membingungkan di kelas atau kantor kamu.

Baca juga:

FAQ

1. Apa saja pasal dari sila ke-1 sampai 5 Pancasila?

Pasal-pasal yang menjabarkan kelima sila berada di UUD 1945. Sila 1 merujuk Pasal 29, sila 2 Pasal 28A sampai 28J, sila 3 Pasal 1 ayat (1), 26, dan 36, sila 4 Pasal 1 ayat (2) dan 6A, sedangkan sila 5 Pasal 33 dan 34. Namun, daftar ini mencakup pasal utama saja, sehingga pasal lain ikut memperkuat.

2. Apakah Pancasila punya pasal sendiri?

Tidak, Pancasila tidak punya pasal sendiri. Pancasila berisi lima sila yang berada dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, dan Pembukaan tidak berbentuk pasal. Pasal hanya ada di batang tubuh UUD 1945. Para penyusun menjabarkan nilai kelima sila ke dalam batang tubuh tersebut. Karena itu, orang merujuk pasal tersebut ketika membahas penerapan sila.

3. Pasal berapa yang memuat sila ke-1 Pancasila?

Pasal 29 UUD 1945 menjadi rujukan utama sila ke-1. Ayat (1) menyatakan negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, dan ayat (2) menjamin kemerdekaan setiap penduduk memeluk agama serta beribadat menurut agama dan kepercayaannya. Selain itu, Pasal 28E ayat (1) dan Pasal 28I ayat (1) memperkuat jaminan kebebasan beragama tersebut.

4. Pasal berapa yang memuat sila ke-5 Pancasila?

Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945 menjadi rujukan utama sila ke-5. Dimana Pasal 33 mengatur perekonomian berasas kekeluargaan dan penguasaan kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat, sedangkan Pasal 34 mengatur pemeliharaan fakir miskin dan anak terlantar serta sistem jaminan sosial. Selain itu, Pasal 27 ayat (2) dan Pasal 28H ayat (1) ikut menopang.

5. Kapan Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara?

PPKI mengesahkan Pancasila sebagai dasar negara pada 18 Agustus 1945, bersamaan dengan pengesahan UUD 1945. Sebelumnya, Soekarno menyebut nama Pancasila dalam pidatonya pada 1 Juni 1945 di sidang BPUPKI. Karena itu, banyak orang memperingati 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila.

Scroll to Top