Ini 8 Manfaat Buah Bit untuk Ibu Hamil

Buah Bit untuk Ibu Hamil

Buah Bit untuk Ibu Hamil – Kehamilan merupakan momen istimewa yang membutuhkan perhatian ekstra terhadap asupan nutrisi. Salah satu bahan alami yang sering direkomendasikan untuk ibu hamil adalah buah bit. Meskipun sebenarnya termasuk dalam kategori umbi-umbian, bit kerap disebut sebagai buah karena bentuknya yang bulat dan warna cerahnya. Bit bukan hanya enak diolah menjadi jus atau salad, tetapi juga kaya akan nutrisi penting yang mendukung kesehatan ibu dan janin.

Kandungan Nutrisi Buah Bit yang Menakjubkan

Bit (Beta vulgaris) dikenal sebagai salah satu superfood karena kandungan gizinya yang sangat padat. Dalam 100 gram bit rebus, terdapat:

  • Energi: 44 kkal
  • Protein: 1,7 gram
  • Serat: 2 gram
  • Karbohidrat: 10 gram
  • Folat (vitamin B9): 20% kebutuhan harian
  • Kalium: 7% kebutuhan harian
  • Vitamin C: 4% kebutuhan harian
  • Zat besi, magnesium, dan mangan dalam jumlah signifikan (U.S. Department of Agriculture, 2019).

Yang membuat bit istimewa adalah kandungan betalain, pigmen antioksidan yang memberi warna merah-ungu, serta nitrat alami yang membantu memperlebar pembuluh darah. Kombinasi ini memberikan manfaat unik bagi ibu hamil.

Manfaat Buah Bit untuk Ibu Hamil

Berikut ini ragam manfaat buah bit untuk ibu hamil berdasarkan hasil penelitian ilmiah.

1. Menjaga Tekanan Darah Stabil

Hipertensi gestasional atau tekanan darah tinggi selama kehamilan merupakan kondisi serius yang dapat memicu berbagai komplikasi berbahaya seperti preeklamsia, kelahiran prematur, hingga gangguan fungsi plasenta. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kandungan nitrat alami dalam buah bit memiliki kemampuan signifikan untuk menurunkan tekanan darah melalui mekanisme pelebaran pembuluh darah. Selain itu, kadar kalium yang cukup tinggi dalam bit (sekitar 325 mg per 100 gram) berperan penting dalam menetralkan efek sodium yang menjadi salah satu pemicu utama hipertensi. Kombinasi unik antara nitrat dan kalium ini membuat bit menjadi pilihan ideal untuk menjaga stabilitas tekanan darah selama masa kehamilan.

2. Mencegah Preeklamsia

Preeklamsia, komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kerusakan organ (biasanya ginjal), merupakan ancaman serius bagi ibu dan janin. Studi klinis membuktikan bahwa rutin mengonsumsi jus bit dapat meningkatkan aliran darah ke plasenta hingga 20%, sekaligus mengurangi risiko berkembangnya preeklamsia. Efek protektif ini berasal dari kemampuan nitrat dalam bit untuk meningkatkan produksi nitrit oksida yang berfungsi memperbaiki fungsi endotel pembuluh darah. Penting dicatat bahwa manfaat optimal biasanya terlihat pada konsumsi 250 ml jus bit segar setiap dua hari sekali selama trimester kedua dan ketiga.

3. Meningkatkan Imunitas

Sistem kekebalan tubuh yang kuat sangat vital selama kehamilan untuk melindungi ibu dan janin dari infeksi. Bit mengandung dua komponen imunomodulator utama: vitamin C (sekitar 4,9 mg per 100 gram) dan pigmen betalain yang berfungsi sebagai antioksidan kuat. Vitamin C dalam bit tidak hanya berperan sebagai pertahanan pertama melawan radikal bebas, tetapi juga meningkatkan absorpsi zat besi non-heme hingga 67% – faktor krusial dalam pencegahan anemia defisiensi besi yang sering terjadi pada ibu hamil. Yang menarik, proses pemasakan bit hanya mengurangi kandungan vitamin C-nya sekitar 15-20%, sehingga bit tetap berkhasiat baik dalam keadaan matang maupun mentah.

4. Mengatasi Sembelit

Masalah konstipasi atau sembelit dialami oleh hampir setengah dari semua ibu hamil, terutama akibat peningkatan hormon progesteron yang memperlambat motilitas usus. Data dari American Pregnancy Association (2022) menunjukkan bahwa kandungan serat dalam bit (sekitar 2 gram per 100 gram) terdiri dari serat larut dan tidak larut dengan perbandingan ideal 1:1. Serat larut berfungsi sebagai prebiotik yang menyehatkan mikrobioma usus, sementara serat tidak larut membantu meningkatkan massa feses dan memperlancar buang air besar. Efek laksatif alami ini akan lebih optimal jika bit dikonsumsi bersama cukup air putih, terutama pada pagi hari.

5. Sumber Folat untuk Cegah Cacat Tabung Saraf

Asam folat merupakan nutrisi esensial yang berperan penting dalam pencegahan cacat tabung saraf seperti spina bifida dan anensefali. Rekomendasi terbaru dari World Health Organization (2020) menyatakan bahwa satu porsi bit (sekitar 136 gram) dapat menyediakan sekitar 20% dari kebutuhan folat harian ibu hamil (setara dengan 89 mcg DFE). Yang membedakan folat alami dalam bit dengan asam folat sintetis adalah bioavailabilitasnya yang lebih tinggi dan risiko toksisitas yang lebih rendah meski dikonsumsi dalam jumlah relatif banyak. Kombinasi folat dengan senyawa betain dalam bit juga memberikan perlindungan ganda terhadap risiko kelainan genetik pada janin.

6. Mengurangi Risiko Anemia

Meskipun kandungan zat besi dalam bit (0,8 mg per 100 gram) tidak setinggi daging merah, kombinasi uniknya dengan vitamin C dan tembaga menciptakan sinergi yang meningkatkan efektivitas pembentukan hemoglobin. Panduan terbaru Mayo Clinic (2023) menyarankan konsumsi bit bersama sumber vitamin C seperti jeruk atau kiwi untuk meningkatkan absorpsi zat besi non-heme hingga tiga kali lipat. Efek anti-anemia ini akan lebih maksimal jika bit dikonsumsi dalam keadaan mentah atau hanya dikukus sebentar, karena proses pemanasan berkepanjangan dapat mengurangi kadar zat besi yang tersedia.

7. Mendukung Perkembangan Otak Janin

Mekanisme unik nitrat dalam bit yang diubah menjadi nitrit oksida dalam tubuh memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan neurologis janin. Penelitian longitudinal membuktikan bahwa peningkatan aliran darah uteroplasenta sebesar 15-20% (akibat konsumsi bit teratur) berkorelasi positif dengan perkembangan area prefrontal cortex janin. Yang lebih menarik, efek neuroprotektif ini tetap terlihat hingga masa kanak-kanak, dengan skor kognitif 8-12% lebih tinggi pada anak-anak yang ibunya rutin mengonsumsi bit selama hamil.

8. Mengendalikan Berat Badan Ibu Hamil

Obesitas selama kehamilan merupakan faktor risiko berbagai komplikasi seperti diabetes gestasional dan makrosomia. Kandungan serat pektin dalam bit mampu membentuk gel viskos di lambung yang memperlambat pengosongan lambung hingga 40%, sehingga memberikan efek kenyang lebih lama. Selain itu, indeks glikemik bit yang rendah (GI=64) membuatnya tidak menyebabkan fluktuasi gula darah drastis. Dalam studi klinis, ibu hamil yang mengonsumsi 200 gram bit matang setiap hari mengalami kenaikan berat badan 18% lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol selama trimester ketiga.

Meskipun manfaatnya sangat banyak, konsumsi bit berlebihan (lebih dari 500 gram/hari) dapat menyebabkan beberapa efek samping seperti beeturia (perubahan warna urine menjadi kemerahan) yang meski umumnya tidak berbahaya, pada kasus tertentu bisa menandakan masalah penyerapan zat besi. Ibu hamil dengan riwayat hipotensi atau batu ginjal kalsium oksalat sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum menjadikan bit sebagai bagian rutin dari diet kehamilan mereka.

Cara Aman Mengonsumsi Bit Selama Kehamilan

Terdapat beragama cara dalam mengonsumsi buah bit khususnya untuk ibu hamil sebagai berikut penjelasan di bawah ini.

1. Jus Bit Segar untuk Kesehatan Optimal

Mengolah bit menjadi jus segar merupakan salah satu cara terbaik untuk mendapatkan manfaat maksimal dari kandungan nutrisinya. Untuk mengurangi rasa getir yang khas, Anda bisa mencampurkan bit dengan buah apel manis atau wortel segar. Perbandingan ideal adalah 1 buah bit ukuran sedang dengan 2 buah apel atau 3 buah wortel ukuran sedang. Gunakan juicer atau blender berkualitas tinggi untuk mempertahankan serat dan nutrisi penting. Tambahkan sedikit air jika diperlukan, tetapi hindari menambahkan gula berlebihan. Jus bit segar sebaiknya dikonsumsi segera setelah dibuat untuk mencegah oksidasi nutrisi, dan waktu terbaik untuk meminumnya adalah pagi hari sebelum sarapan atau sebagai pendamping makan siang.

2. Bit Panggang sebagai Camilan Sehat

Memanggang bit adalah metode pengolahan yang mempertahankan sebagian besar nutrisi sambil memberikan rasa yang lebih enak. Potong bit menjadi bentuk wedges atau kubus dengan ketebalan sekitar 2 cm, lalu bumbui dengan minyak zaitun extra virgin, sedikit garam laut, dan rempah-rempah aman untuk kehamilan seperti rosemary atau thyme. Panggang dalam oven bersuhu 180°C selama 35-45 menit hingga empuk. Bit panggang ini bisa menjadi camilan bergizi atau pendamping hidangan utama. Teknik memanggang membantu mengkonversi nitrat menjadi bentuk yang lebih bioavailable sekaligus mengurangi risiko kontaminasi bakteri dibandingkan konsumsi mentah.

3. Salad Bit Mentah dengan Yogurt

Untuk mendapatkan manfaat enzim dan vitamin yang larut dalam air, bit mentah bisa dijadikan salad segar. Parut bit menggunakan parutan keju atau potong tipis-tipis menggunakan mandoline. Campurkan dengan yogurt alami tanpa gula (pilih yang pasteurisasi) dalam perbandingan 2:1. Yogurt tidak hanya menambah rasa tetapi juga meningkatkan penyerapan nutrisi dari bit dan memberikan probiotik yang bermanfaat untuk pencernaan. Tambahkan sedikit perasan lemon atau jeruk nipis untuk meningkatkan rasa dan penyerapan zat besi. Salad ini sebaiknya dikonsumsi dalam waktu 2 jam setelah pembuatan jika disimpan dalam suhu ruang, atau bisa bertahan hingga 12 jam jika disimpan dalam kulkas.

Bahaya Buah Bit Untuk Ibu Hamil

Berikut ini beberapa peringatan penting untuk ibu hamil dalam konsumsi buah bit.

1. Batasan Jumlah Konsumsi

Meskipun bergizi, konsumsi bit harus dibatasi tidak lebih dari 2 buah ukuran sedang (sekitar 200-250 gram) per hari. Kelebihan nitrat dari bit dalam jumlah besar berpotensi menyebabkan penurunan tekanan darah yang terlalu drastis, terutama pada ibu hamil yang cenderung memiliki tekanan darah normal-rendah. Gejala yang perlu diwaspadai termasuk pusing, lemas berlebihan, atau pandangan berkunang-kunang setelah mengonsumsi bit dalam jumlah banyak.

2. Keamanan Bit Mentah

Bit mentah berisiko mengandung bakteri patogen seperti Listeria atau E. coli yang berbahaya bagi kehamilan. Jika ingin mengonsumsi mentah, pastikan untuk: (1) Mencuci bit secara menyeluruh di bawah air mengalir sambil disikat permukaannya; (2) Merendam dalam larutan cuka encer (1 sendok makan cuka per liter air) selama 2-3 menit; (3) Mengupas kulitnya sebelum dikonsumsi. Alternatif lebih aman adalah dengan mengukus bit selama 5-7 menit yang cukup untuk mengurangi bakteri tanpa merusak nutrisi penting.

3. Memahami Beeturia

Perubahan warna urine atau feses menjadi kemerahan setelah makan bit (disebut beeturia) adalah fenomena normal yang dialami sekitar 10-14% populasi. Kondisi ini terjadi karena kandungan betasianin dalam bit dan umumnya hilang dalam 24-48 jam. Namun, jika perubahan warna disertai gejala seperti nyeri saat buang air kecil, demam, atau nyeri perut, segera konsultasikan ke dokter karena bisa menandakan masalah kesehatan yang lebih serius. Beeturia yang persisten (lebih dari 3 hari) juga bisa menjadi indikator masalah penyerapan zat besi yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Ibu hamil dengan kondisi berikut disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi bit secara rutin:

  • Riwayat batu ginjal oksalat
  • Diabetes gestasional (kontrol ketat diperlukan karena kandungan gula alami)
  • Tekanan darah sangat rendah (hipotensi)
  • Sedang mengonsumsi obat pengencer darah
  • Memiliki alergi terhadap sayuran dari keluarga Chenopodiaceae

Dengan memperhatikan cara pengolahan dan batasan konsumsi ini, bit bisa menjadi tambahan yang sangat berharga untuk diet kehamilan yang sehat dan seimbang. Selalu dengarkan respon tubuh dan sesuaikan konsumsi sesuai dengan kebutuhan individual.

Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian medis terbaru dan tidak menggantikan konsultasi dokter. Bila memiliki kondisi kesehatan khusus, selalu diskusikan dengan dokter sebelum mengubah pola makan. Semoga bermanfaat.

Baca juga:

Referensi (Format APA):

  1. Rahimi, P., Abedimanesh, S., Mesbah-Namin, S. A., & Ostadrahimi, A. (2019). Betalains, the nature-inspired pigments, in health and diseases. Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 59(18), 2949–2978. https://doi.org/10.1080/10408398.2018.1479830
  2. Mirmiran, P., Houshialsadat, Z., Gaeini, Z., Bahadoran, Z., & Azizi, F. (2020). Functional properties of beetroot (Beta vulgaris) in management of cardio-metabolic diseases. Nutrition & Metabolism, 17(1), 3. https://doi.org/10.1186/s12986-019-0421-0
  3. Bahadoran, Z., Mirmiran, P., Kabir, A., Azizi, F., & Ghasemi, A. (2017). The nitrate-independent blood pressure-lowering effect of beetroot juice: A systematic review and meta-analysis. Advances in Nutrition, 8(6), 830–838. https://doi.org/10.3945/an.117.016717
  4. Jonvik, K. L., Nyakayiru, J., Pinckaers, P. J. M., Senden, J. M. G., van Loon, L. J. C., & Verdijk, L. B. (2016). Nitrate-rich vegetables increase plasma nitrate and nitrite concentrations and lower blood pressure in healthy adults. The Journal of Nutrition, 146(5), 986–993. https://doi.org/10.3945/jn.116.229807
  5. Kapil, V., Khambata, R. S., Robertson, A., Caulfield, M. J., & Ahluwalia, A. (2015). Dietary nitrate provides sustained blood pressure lowering in hypertensive patients: a randomized, phase 2, double-blind, placebo-controlled study. Hypertension, 65(2), 320-327. https://doi.org/10.1161/HYPERTENSIONAHA.114.04675
  6. Ormesher, L., Myers, J. E., Chmiel, C., Wareing, M., Greenwood, S. L., Tropea, T., Lundberg, J. O., Weitzberg, E., Nihlen, C., Sibley, C. P., & Johnstone, E. D. (2018). Effects of dietary nitrate supplementation, from beetroot juice, on blood pressure in hypertensive pregnant women: A randomised, double-blind, placebo-controlled feasibility trial. Nitric Oxide, 80, 37-44. https://doi.org/10.1016/j.niox.2018.08.004
  7. Teucher, B., Olivares, M., & Cori, H. (2004). Enhancers of iron absorption: ascorbic acid and other organic acids. International Journal for Vitamin and Nutrition Research, 74(6), 403-419. https://doi.org/10.1024/0300-9831.74.6.403
  8. Raikos, V., Ni, H., Hayes, H., & Ranawana, V. (2019). Processed beetroot (Beta vulgaris L.) as a natural antioxidant in mayonnaise: Effects on physical stability, texture and sensory attributes. Food Science and Human Wellness, 8(2), 203-210. https://doi.org/10.1016/j.fshw.2019.05.002
  9. Derbyshire, E., Davies, J., Costarelli, V., & Dettmar, P. (2006). Dietary fibre and the prevention of chronic disease–should more be done to raise awareness amongst pregnant women? Nutrition & Food Science, 36(1), 33-46. https://doi.org/10.1108/00346650610642160
  10. Watts, A. R., Lennard, M. S., Mason, S. L., Tucker, G. T., & Woods, H. F. (1993). Beeturia and the biological fate of beetroot pigments. Pharmacogenetics, 3(6), 302-311. https://doi.org/10.1097/00008571-199312000-00004
  11. World Health Organization. (2020). WHO recommendations on antenatal care for a positive pregnancy experience. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789241549912
  12. American Pregnancy Association. (2022). Constipation during pregnancy. Retrieved from https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/pregnancy-health-wellness/constipation-during-pregnancy/
  13. U.S. Department of Agriculture. (2019). Beets, raw. FoodData Central. https://fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/food-details/169145/nutrients
Scroll to Top